Senin, 22 September 2014

Yakin dengan Kemampuan Diri

Seringkali ketika saya telah selesai menjelaskan bisnis saya... banyak yang sebenarnya tertarik dengan perubahan hidup yang mungkin terjadi dalam kehidupan mereka melalui bisnis ini. Akan tetapi banyak yang lantas berkata bahwa mereka mungkin tak bisa melakukan apa yang saya lakukan. Padahal belum dicoba... padahal belum dikerjakan... padahal belum mempelajari lebih lanjut!

Lalu saya iseng jalan-jalan di dunia maya dan menemukan sebuah artikel yang menyadarkan saya bahwa sebenarnya setiap manusia itu punya potensi yang luar biasa dalam berbagai hal. Setiap manusia itu unik. Termasuk kita.

Tuhan telah membekali kita dengan sekian kelebihan dan sekian kekurangan. Ingat ya... kita punya kelebihan lho... Nggak melulu kekurangan yang kemudian sering dijadikan alasan untuk berhenti maju dan hanya stuck di satu tempat saja.

Padahal sebebarnya kita ingin sampai di suatu tempat. Padahal kita ingin mencapai sesuatu dalam hidup. Padahal
kita ingin mewujudkan banyak hal. Padahal kita ingin ini ingin itu... Saya katakan : JANGAN HANYA INGIN! TAPI BERGERAKLAH! LAKUKAN SESUATU!

Karena kalau hanya ingin itu nggak mengubah apapun dalam hidup kita. Sikap hanya ingin justru akan membuat kita lemah dan semakin tak berdaya. Maka milikilah YAKIN. Saya ingin lalu saya yakin. Jangan berhenti hanya sebatas ingin. Lanjutkanlah dengan yakin. Saya ingin dan saya yakin saya bisa! Terasa kan bedanya?

Kita nggak akan pernah tahu apakah kita mampu atau tidak sebelum kita mencoba. Adakah yang salah dengan mencoba? Tentu tidak! Saya yakin dengan mencoba kita akan menemukan sisi lain dari kehidupan yang berbeda dan terkadang justru lebih menarik.

Ketika kita mencoba suatu hal baru kita dihadapkan pada satu kondisi ketidakpastian. Disinilah kita diuji! Seberapa besar keyakinan kita akan menentukan sejauh mana langkah kita. Makin yakin makin makin jauh dan makin makin dekat dengan apa yang kita inginkan. Makin lemah keyakinan kita maka langkah yang kita tempuh juga tak seberapa jauh. Artinya tujuan kita masih jauh.

Biar kita makin yakin maka kita harus sering-sering bertemu dengab orabg-orang yang optimis, yang punya semangat juang, yang punya impian kuat dan tentu mereka yang sudah membuktikan bahwa langkah mereka memang mengarah ke tujuan mereka.

Semoga bermanfaat!
Salam hangat,
Ruri Hidayat | http://my-life-passion.blogspot.com | WA : 087784771589 | BBM : 75A374FE |

Sabtu, 20 September 2014

Perjalanan 3 Bulan Saya di Oriflame

Bulan ketiga semangat saya berkobar! Semangat 45!

Akhir bulan kedua... saya udah nyebar katalog. Kali ini nggak pakai malu. Temen-temen di tempat kerja saya hubungi satu per satu dan saya kasih aja katalognya. Saya juga ngasih katalog ke kakak saya dan wowww dapat orderan sampai 70an BP. Nah, ini juga yang bikin saya tambah semangat lagi. Ternyata tutup poin itu mudah. Asal mau dan nggak malu ngedarin katalog.

Di bulan ketiga ini ada even besar Steps To Success yang diselenggarakan Oriflame di Kuningan City. Even akbar Oriflame yang baru pertama kali saya ikuti ini benar-benar luar biasa. 2500 leader Oriflame hadir di acara tersebut. Diawali dengan sharing dari leader-leader sukses Oriflame, lanjut launching welcome programe Batic Chic dan recognisi.

Dalam sharing leader ini ada couple leader yang keren banget dan sangat menginspirasi. Mereka adalah New Executive Director Surya Nanta dan Niek Sugiyarti dari Bali. Pasangan muda ini merintis bisnis Oriflame sejak mereka masih kuliah. Mereka menjalani setiap prosesnya bersama-sama, naik level bersama-sama, membina jaringan bersama-sama. Hingga kini setelah mereka menikah pun masih tetap menjalani bisnis Oriflame sebagai bisnis utama mereka. Keren banget dah pokoknya. Sangat inspiratif!

Secara nggak sadar keduanya juga telah mengedukasi bahwa bisnis ini adalah bisnis anak muda. Sebagai sebuah bisnis Oriflame memenuhi semua kriteria untuk dijadikan bisnis. Salah satunya bisa dijalankan oleh siapa saja, termasuk anak muda. Modal jelas terjangkau. Nggak perlu sewa-sewa tempat, nggak perlu stok barang dan sistemnya juga mudah dipelajari. Dan pastinya menjanjikan penghasilan yang besar untuk jangka waktu panjang.

Keluar dari even keren ini ada semangat baru yang mencuat di dada saya. Saya pun mulai melawan rasa takut saya untuk mulai merekrut. Di minggu terakhir di bulan Agustus saya benar-benar mencekoki pikiran saya sendiri bahwa saya bisa merekrut. Dan alhamdulillah dalam satu minggu saya bisa merekrut 3 orang. Ini benar-benar kemajuan yang luar biasa buat saya.

Meski belom naik level di bulan ketiga ini, tapi saya tetap optimis bahwa saya BISA! Saya semakin yakin dengan bisnis ini. Saya semakin mantap dengan keputusan saya untuk join di Oriflame. Apakah kamu juga pengen join di Oriflame? Bulan ini sedang promo lho... pendaftaran cukup 9900 rupiah saja... Berminat? Yuk chat...

Salam hangat,
Ruri Hidayat | http://my-life-passion.blogspot.com | WA : 087784771589 | BBM : 75A374FE |

Selasa, 16 September 2014

Perjalanan 2 Bulan Saya di Oriflame

Memasuki bulan kedua, saya sudah semakin percaya diri dengan bisnis saya. Saya berusaha memahami benar apa yang saya kerjakan, kenapa saya mau ngerjain dan untuk siapa saya bekerja.

Saya seneng banget bisa ikut training-training offline. Dan saya selalu kagum dengan upline-upline yang bisa dengan begitu cepat mencapai level Senior Manager. Pertanyaan yang terus beegelantungan di kepala saya adalah "Apa sih yang mereka kerjain?"

Iseng-iseng berhadiah saya inbox super upline saya yang sudah di level Diamond Director. Artinya dia sudah mendapatkan hadiah Car Program dari Oriflame yaitu Honda CR-V, Cash Award 48 juta rupiah dan tentu jalan-jalan ke luar negeri gratis dari Oriflame. Dan nggak nyangka banget ternyata inbox-ku dibalas! Seperti mendapat durian runtuh... saya senang bukan main.

Nah, berkat balasan inbox itulah saya terus berusaha mengikuti nasehat beliau. Salah satunya adalah sering-sering bertemu dengan orang-orang yang memang ingin sukses di Oriflame. Setiap ada training offline saya usahakan selalu ikut. Di Sudirman, Rawamangun bahkan sampai ke Bogor. Demi apa? Demi menjaga semangat saya tetap stabil sekaligus menimba ilmu dan strategi jalanin bisnis ini.

Bulan kedua ini juga udah mulai belajar membina downline sendiri. Meski masih sering banget nanya-nanya sama upline tapi saya harus berlatih. Kalo enggak... mau sampai kapan saya bergantung pada upline. Sayang banget saya masih malu-malu untuk rekrut. Saya belum menemukan formula yang tepat. Sehingga kebanyakan yang saya tawari malah sukses bilang "NO".

Tapi saya nggak menyerah. Saya bikin list nama dari nama-nama di kontak hp, BB, WA dan mulai saya hubungi satu-satu. Dan satu per satu pula mereka menolak. Nggak tahu udah berapa banyak... yang jelas sudah berusaha dan terus berlatih menyempurnakan strategi.

Di akhir bulan kedua saya sukses turun level di 3% dengan bonus sekitar 50ribuan. Tapi alhamdulillah saya banyak banget belajar di bulan kedua ini. Dan saya mulai menemukan polanya. Asal nggak berhenti dan terus mencoba... jalan itu akan selalu ada. So keep fight and bismillah...

Salam hangat,
Ruri Hidayat | http://my-life-passion.blogspot.com | WA : 087784771589 | BBM : 75A374FE |

Senin, 15 September 2014

Jadilah Konsisten!

Mbak Nadia Meutia dalam sebuah webinarnya bersama duo sister Eka Satriana dan Dian Endriyana pernah nanyain tentang apa arti konsisten ini kepada kita... anak-anak dan acucitnya. Beragam komentarpun langsung mengalir dari ribuan peserta yang ikut seminar online malam itu.

Saya berpikir. Apa ya maknanya? Bukan secara konsep ataupun teori tetapi versi pribadi saya sendiri. Pas mau nulis A... eh ternyata udah ada yang komen sama persis. Pas mau komen B ternyata juga ada yang sama. Rata-rata sih sama komennya : rajin online, rajin rekrut, tepat waktu tutup poinnya, nggak ngambekan, istiqomah dan komen seru lainnya.

Nah menurutku pribadi nih... berdasar komen-komen itu yang namanya konsisten itu : nggak malu ngerjain bisnisnya, nggak nanti-nanti, nggak bergantung mood, kerjain terus sampai tuntas tas tas tas!

Iya dong nggak boleh malu ngerjain bisnisnya. Ngapain malu orang kerjaannya juga halal. Dan ngapain malu juga kalau nyatanya bisnis ini bisa mewujudkan apa yang kita impikan. Meski semua butuh proses tapi kita harus yakin. Nah, yakin inilah modal yang sesungguhnya. Kalau udah yakin... ngerjainnya juga bakalan sepenuh hati, menghargai dan konsistensi sudah pasti dijalani.

Yang namanya konsisten ya nggak boleh nanti-nanti ngerjain bisnisnya. Kalau memang sekarang ya sekarang. Kalau ditunda pasti deh ntar jadi kebiasaan. Sekarang nunda besoknya bilang besok aja deh... terus besoknya bilang lagi besok aja deh... dan begitu terus sampai akhirnya lupa gimana cara ngerjainnya. Putus rantai menunda dengan melakukannya sekarang juga. Sekarang juga!

Mood itu hanya akal-akalan saja. Bilang saja males ngerjainnya. So, kalau kerjanya masih ngandelin mood hampir bisa dipastikan dia nggak serius ngerjain pekerjaan apapun. Proof it!

Konsisten menurutku ya harus jalanin sampai selesai. Jangan setengah-setengah. Ini to do listnya.... ya kerjain sampai selesai. Jangan baru mulai udah lemes. Baru mulai udah males. Kapan majunya?!

So, konsisten itu setiap orang punya definisi sendiri-sendiri. Intinya adalah setia pada prosesnya. Kalau bisa malah menikmati prosesnya. Saat kita bisa menikmati apa yang kita kerjakan saat itulah kita tak menganggap apa yang kita kerjakan sebagai beban. Melainkan sebagai sebuah kesenangan yang bikin kita ketagihan untuk terus dan terus mengerjakannya. Sudahkah kamu bersikap konsisten?

Salam hangat,
Ruri Hidayat | http://my-life-passion.blogspot.com | WA : 087784771589 | BBM : 75A374FE |

Rabu, 03 September 2014

Bagaimana Mengubah Teori Menjadi Aksi?

Belajar. Tugas mulia yang sangat dianjurkan bagi siapa saja. Cara termudab untuk melejitkan potensi yang kamu miliki. Suatu langkah yang bisa meningkatkan kapabilitas kamu dalam bidang tertentu.

Belajar adalah suatu keharusan. Banyak hal yang terus berubah di dunia ini. Setiap hari muncul penemuan-penemuan baru. Setiap detik ada update informasi terkini. Banyak sekali fenomena di lingkungan kita yang menuntut kita untuk terua belajar dan mengupdate pengetahuan kita.

Saat ini banyak sekali seminar, training, workshop yang bisa kita ikuti. Tentunya sesuai dengan minat dan bidang pekerjaan yang kita geluti. Ilmu yang sesuai dengan apa yang kita kerjakan tentu akan sangat bermanfaat bukan?

Tapi... yang disayangkan adalah ketika kita tahu ilmunya tapi nggak dimanfaatin. Yang lebih disayangkan lagi adalah kita tahu nih ilmunya, prinsip-prinsipnya tapi nggak tahu gimana memulainya. Nah lho...! Udah ikut pelatihan ini itu... udah join training ini itu... tetep aja hasilnya gitu-gitu aja. Kan sayang banget. Ikutan pelatihan atau training pasti butuh investasi. Entah investasi uang, tenaga, pikiran dan tentu saja investasi waktu. Sayang dong kalo hanya terbuang percuma!

Gimana sih biar kita bisa merubah teori menjadi aksi? Gimana biar apa yang kita pelajari bisa bermanfaat buat diri kita dan orang lain? Gimana sih biar kita bisa mengaplikasikan apa yang kita pelajari?

Saya kasih 2 tips ya...

Pertama, jaga fokus saat sesi belajar berlangsung. Fokus ini penting banget lho. Karena ketika kita fokus dengan apa yang sedang kita pelajari... kita akan lebih memahaminya. Pemahaman ini akan menuntun kita pada bagaimana nantinya kita mengaplikasikan apa yang sudah kita pelajari. Orang yang paham dengan orang yang hanya sekedar tahu tentu beda ya. Kalau udah paham mau diputer-puter kayak apapun... mau seruwet apapun keadaan yang sedang dihadapinya akan selalu bisa menemukan celah karena pemahamannya.

Fokus juga menjaga kita untuk mengingat lebih banyak. Terutama hal-hal yang memang harus dihafal. Juga detail-detail yang kadang nggak sempat dicatat. Kayak jumlah poin, besaran bonus, level-level, jenjang karir hehehe itu mah di bisnisku.

Oke lanjut ke tips yang kedua nih ya... saat kita fokus kita akan menemukan bahwa otak kita ternyata bekerja juga. Otak kita membayangkan bagaimana sekiranya kita mengerjakan apa yang kita pelajari. Ehm paham gak ya?

Misalnya nih... kita belajar tentang prinsip bagaimana mengasuh anak dengan baik. Tentu nanti akan dijelasin dong apa aja prinsip-prinsipnya juga beberapa contohnya. Nah, pas lagi dijelasin kayak gitu pasti otak kita ngebayangin dong gimana seandainya kita ngerjain apa yang dijelasin? Atau... lebih kerennya otak kita mulai membuat adegan-adegan dimana kita mulai menerapkan prinsip-prinsip mengasuh anak pada anak kita. Ketika otak membayangkan cobalah untuk menuliskannya.

Ya, tuliskan apa yang kita bayangkan. Kenapa? Nanti setelah selasai belajar kita bisa baca-baca lagi tulisan kita. Setidaknya bisa ngasih kita gambaran how to ngerjainnya. Kalau udah gitu... ya kita tinggal ngerjain aja.

Semoga bermanfaat ya...

Salam hangat,
Ruri Hidayat | http://my-life-passion.blogspot.com | WA : 087784771589 | BBM : 75A374FE |

Selasa, 02 September 2014

Jangan Galau Kelamaan!

Sebenernya saya nggak begitu suka nulis tentang kegalauan. Selain auranya negatif, nulis tentang galau itu seperti saya sedang mengulangi adegan demi adegan yang bikin saya galau. Mirip banget kayak pas kita galau terus ada orang yang nanya "Kamu galau kenapa?" Nah, mengalirlah cerita mengharu biru yang kadang bikin senep hati dan pikiran. Astaghfirulloh...

Tapi sekarang saya hanya mau sharing soal galau ini. Karena pada kenyataannya galau itu nggak terlalu mengerikan. Galau kan hanya perasaan. Yang seharusnya lebih kita titik beratkan adalah "Apa sih yang bikin kita galau?" Makanya kalau galau jangan kelamaan. Semakin lama kita galau pikiran kita akan semakin buntu. Ujung-ujungnya kita akan susah menemukan apa masalah sebenarnya. Padahal kalau udah ketemu masalahnya insya Allah lebih enak kok. Kita bisa fokus nyari dan ngusahain solusinya.

Kayak kemaren ini nih yang bikin saya galau. Biasalah ya soal bisnis, terus ada masalah keluarga juga ditambah lagi masalah di tempat kerja. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Hmmm rasanya nano-nano deh. Ya kesel, marah, benci, nggak terima, malas, emosional banget pokoknya.

Enaknya di bisnis Oriflame via d'BC Network... kita nggak cuman ngomongin soal bisnis. Kadang kita juga curhat, saling menasehati, saling support  saling nguatin. Terutama dalam kondisi maha galau seperti ini. Selalu ada upline yang ngingetin biar nggak galau kelamaan. Selalu ada yang nguatin biar cepet bangkit dan fokus lagi pada impian. Pada penghasilan 4-7 juta rupiah, pada CRV, pada umroh bareng keluarga, pada jalan-jalan ke luar negeri, pada betapa banyaknya impian yang bisa kita wujudkan dengan tidak membiarkan perasaan galau berkepanjangan.

Alhamdulillah... saya sangat bersyukur dengan karunia ini. Dengan bisnis ini!

Jadi, kalau kamu galau ya udah galaunya buru-buru diselesein. Buru-buru nangisnya, buru-buru meweknya. Abis itu keep smile lagi dan semangat lagi menghadapi kehidupan. Oke!!

Salam hangat,
Ruri Hidayat | http://my-life-passion.blogspot.com | WA : 087784771589 | BBM : 75A374FE |

Minggu, 31 Agustus 2014

Solution Oriented

Seperti biasa ya... update status dan intip-intip status upline di Facebook menjadi salah satu kerjaan favorit saya di kantor kedua saya. Kenapa? Karena dari sana saya bisa belajar banyak sekali hal-hal yang berkaitan dengan bisnis yang sedang saya jalani. Salah satunya dalah tentang solution oriented.

Di bisnis saya setiap orang dituntut untuk bisa menjadi seorang leader yang baik bagi jaringan di bawahnya. Nah, salah satu ciri dari leader yang baik adalah solution noriented. Artinya apa? Artinya dalam menghadapi setiap masalah dia harus yakin bahwa setiap masalah pasti ada solusinya. Dengan keyakinan ini maka setiap leader akan berfokus pada apa yang menjadi penyebab permasalahan dan berusaha mencari jalan keluarnya. BUKAN mencari sumber masalah dan menyalahkannya. Budaya blamming harus dihilangkan benar dari jiwa seorang leader.

dengan karakter solution oriented ini diharapkan setiap downline nggak akan sungkan untuk bergabgi masalah dengan upline-nya. Sehingga komunikasi bisa terjalin dengan baik. Komunikasi yang baik ini akan menjadi kekuatan yang bisa sangat powerfull dalam perkembangan sebuah jaringan.

Tapi, sebelum bisa menjadi leader yang solutif (mampu memberikan solusi) setiap orang harus belajar bagaimana memanage diri mereka sendiri. Lha bagaimana ini? Maksud saya... sebelum bisa memberikan solusi buat orang lain kita harus belajar dulu memberikan solusi bagi permasalahn diri kita sendiri. Kita belajar menumbuhkan keyakinan bahwa SETIAP MASALAH ADA SOLUSINYA. Kita belajar bahwa berfokus pada solusi itu lebih penting ketimbang mencari-cari kambing hitam dalam sebuah masalah.

Mulailah dari diri sendiri dulu. Baru kemudian kita bisa mengarahkan orang lain. Kalau sudah kadung nyemplung jadi pemimpin? Berusahalah dan terus berusaha. Saya yakin orang yang kamu pimpin akan lebih menyukai orang yang memberikan solusi daripada pemimpin yang bisanya hanya menyalahkan tanpa memberikan solusi.

Semoga bermanfaat!
Salam hangat,
Ruri Hidayat [ o87784771589][75A374FE]